Selamat datang kawan

Pendidikan Berkualitas untuk Semua

Monday, 21 November 2016

A Sampai Z Kebiasaan Siswa Kelas VI Sekolah Dasar

Pengertian Kebiasaan Siswa
Menurut Kamus Besar Bahasa indonesia (KBBI), kebiasaan dapat diartikan sebgai (1) sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; (2) Istilah antropologi pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan adalah hal-hal yang biasa dikerjakan oleh siswa yang membentuk suatu pola perulangan terhadap hal yang sama.

Jenis-jenis Kebiasaan Siswa
Jenis-jenis kebiasaan dapat dibedakan berdasarkan kandungan nilai-nilai moral. Menurut Djahiri dalam Pramudya (2012), nilai adalah harga, makna, isi dan pesan, semangat, atau jiwa yang tersurat dan tersirat dalam fakta, konsep, dan teori, sehingga bermakna secara fungsional. Disini, nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Menurut KBBI, nilai adalah sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Menurut Suseno dalam Pramudya (2012), moral adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Menurut KBBI, moral adalah (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; akhlak; budi pekerti; susila. Menurut A. Mangunhardjana dalam wikipedia.org (2016), nilai moral adalah nilai yang menjadikan manusia berharga, baik, dan bermutu sebagai manusia. Sedangkan menurut Max Scheler dalam wikipedia.org (2016), nilai moral merupakan sistem nilai utama antara nilai-nilai yang ada dalam diri manusia dengan nilai-nilai yang ditemukan dalam sebuah era atau bangsa. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa nilai moral adalah sifat-sifat yang bermakna dan berkualitas baik dalam perilaku kemanusiaan. Ada empat jenis

Berdasarkan nilai-nilai moral yang dikandung, kebiasaan siswa dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Kebiasaan baik siswa
Kebiasaan baik adalah hal-hal yang mengandung nilai moral yang biasa dikerjakan secara berulang-berulang oleh siswa.
2. Kebiasaan buruk siswa
Kebiasaan buruk adalah hal-hal yang tidak mengandung nilai moral yang biasa dikerjakan secara berulang-berulang oleh siswa.

Kebiasaan Siswa Kelas VI Sekolah Dasar
Menurut teori pekembangan kognitif Jean Piaget, siswa kelas VI SD masih dalam tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun). Dalam tahap ini siswa kelas VI sudah mulai menghilangkan sifat egosentrismenya. Hal itu terlihat pula dalam kebiasaan-kebiasaan siswa kelas VI. Meski kebiasaan sekolah satu dengan sekolah yang lain mungkin berbeda. Berdasarkan pengamatan di sekolah dapat diperoleh data amatan kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk siswa kelas VI di antaranya sebagai berikut.
1.  Kebiasaan baik
a. Membuang sampah pada tempatnya, aktif tugas piket, dan merawat tanaman sekolah
b. Mengerjakan soal-soal latihan ujian
c. Berani menjadi petugas upacara bendera
d. Berdoa sebelum dan sesudah belajar
e. Menyanyikan lagu Indonesia Raya
f. Membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran dimulai
g. Menyiapkan alat tulis dan buku yang diperlukan untuk mata pelajaran yang akan dipelajari tanpa disuruh
h. Menyimak penjelasan guru
i. Mau bekerjasama dalam kelompok belajar
j. Mau bertanya ketika mengalami kesulitan
k. Mau menjadi tutor sebaya bagi siswa yang sudah paham/mampu
l. Mengerjakan tugas-tugas dari guru dengan baik
m. Menggunakan media dan sumber belajar untuk menyelesaikan tugas
n. Percaya diri menyampaikan pendapat atau presentasi
o. Berpartisipasi aktif dalam membuat kesimpulan pada akhir pembelajaran
p. Belajar dengan tenang, fokus, dan tidak mengganggu teman lain
q. Merawat buku paket dan media yang digunakan dalam belajar
r. Menyimpan kembali buku, alat, dan media belajar seusai digunakan
s. Mengumpulkan tugas secara antre dengan tertib tanpa saling mendahului
t. Menilaikan hasil tugas secara tepat waktu
u. Memperhatikan ketika dipanggil untuk dimasukkan nilai tugas-tugasnya
v.  Menghargai dan menghormati guru dan tamu sekolah
w. Rukun dan saling tolong-menolong dengan sesama teman
x. Rukun, membimbing, dan menjaga adik kelas
y. Menjaga kerapian, kesopanan, ketertiban, dan kesehatan diri
z. Senang berolahraga dan berkunjung ke perpustakaan

2.  Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk siswa merupakan negasi dari kebiasaan baik siswa. Beberapa kebiasaan buruk siswa kelas VI SD yang perlu di perbaiki diantaranya adalah sebagai berikut.
a. Datang terlambat
b. Tidak mengerjakan tugas guru
c. Menyalin pekerjaan teman
d. Mengejek teman lain
e. Bekelahi dengan teman atau adik kelas
f. Menghindar atau enggan bekerjasama dalam kelompok belajar
g. Tidak merawat buku-buku yang dipinjamkan sekolah
h. Tidak khidmat dalam mengikuti upacara bendera
i. Mencorat-coret meja, kursi, dan dinding sekolah
j. Tidak rajin berlatih soal-soal ujian
k. Tidak mau bertanya ketika kesulitan
l. Enggan membuka buku atau mencari sumber belajar ketika kesulitan menjawab soal
m. Tidak percaya diri dalam mengemukakan pendapat dan presentasi
n. Kurang patuh terhadap ketua kelas
o. Masih ramai dan tidak konsentrasi dalam pembelajaran
p. Lupa membawa alat tulis atau buku pelajaran
q. Tidak antre secara tertib ketika mengumpulkan tugas
r. Kurang memperhatikan ketika dipanggil untuk dimasukkan nilai hasil belajar
s. Iseng dan mengganggu teman lain dalam belajar
t. Merasa menang sendiri terhadap adik kelas
u. Masih jajan ketika bel sudah masuk
v. Tidak mengerjakan tugas piket dan enggan ikut kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah
w. Tidak sarapan
x. Banyak mengeluh capek ketika mengikuti tambahan pelajaran atau les
y. Membuang sampah sembarangan
z. Tidak mencuci tangan dan membersihkan diri sehabis olahraga

Sumber:
http://kbbi.kata.web.id/kebiasaan/
https://tumpalsimamora.wordpress.com/2009/07/21/habit-and-attitude/
https://id.wikipedia.org/wiki/Aksiologisme
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_perkembangan_kognitif#Tahapan_operasional_konkrit
https://books.google.co.id/books?id=fwAgV02_J2oC&pg=PA65&lpg=PA65&dq=nilai-nilai+moral
Pramudya Y. A. (2012). pengertian-nilai-moral-dan-norma. http://coretanseadanya.blogspot.co.id
http://kbbi.web.id/moral
http://kbbi.web.id/nilai

Wednesday, 16 November 2016

Pendidikan yang Mengentaskan (Newer Hope)

Beberapa hari yang lalu penulis sempat berbincang-bincang dengan salah satu tokoh pendidik. Beliau bercerita tentang kisah seorang bapak yang dilihat secara ekonomi tergolong menengah ke bawah. Latar belakang pendidikannya pun tidak tinggi. Bapak itu adalah orang yang sangat sederhana, mau bekerja serabutan asalkan halal. Biasanya bertani, menjadi tukang batu, tak jarang tukang kayu undangan dari masyarakat sekitarpun ia jalani dengan lapang hati. Untuk bayaran, bapak itu bisaya tidak ngarani. Meski dengan penghasilan pas-pasan tapi beliau tetap berusaha menyekolahkan putra-putrannya. Ada yang masih di sekolah dasar, ada pula yang di sekolah menengah. Tak ayal untuk kecukupan biaya pendidikan putra-putranya, bapak itu harus memutar otak. Terpikirlah memperbaiki nasib, menambah penghasilan. Beliau merantau ke kota meninggalkan desanya dan sawah yang selama ini beliau garap. Beliau memutuskan untuk menjadi penjual bubur di kota. Untuk memperlancar usahanya beliau menyewa sebuah rumah kecil seharga Rp 500.000 per bulan. Rumah itu berfungsi untuk berjualan, rumah tinggal, sekaligus dapur masak. Akan tetapi sudah empat bulan berusaha alih karya untuk merubah nasib, nampaknya beliau belum berhasil.  Empat bulan berlalu namun uang sewa rumah pun belum dapat terbayar.

Seusai bercerita tokoh pendidik itu mencoba memberikan analisisnya tentang cerita yang baru saja beliau utarakan. Menurut beliau selain dengan kunci berdoa, asalkan halal mungkin banyak cara yang dapat diusahakan untuk memperbaiki nasib seseorang. Banyak jalan yang dapat ditempuh untuk sebuah ikhtiar seorang meningkatkan ekonomi. Ada orang-orang yang memang sukses dari awal dengan cara bertani, berdagang, menjadi pegawai, dsb. Meski begitu tidak sedikit orang yang belum berhasil meningkatkan ekonomi. Akan tetapi banyak pula orang yang meningkat ekonominya setelah mantap banting stir dari pekerjaan satu ke pekerjaan lainnya. Seperti seorang karyawan roti senior dengan gaji bagus rela keluar untuk merintis usaha dan sukses. Ada yang dulunya seorang karyawan pabrik jamur dan sudah hampir pensiun kemudian merintis restoran jamur dan atas izin Allah menjadi sangat sukses, dengan ratusan karyawan. Masih banyak pula contoh-contoh lain yang dapat diamati di lingkungan sekitar masing-masing. Akan tetapi ada satu cara dari sekian cara yang lebih secara masif diharapkan dapat memajukan seseorang, menjadi harapan perbaikan nasib, dari segi sosial dan ekonomi bahkan emosional serta sepiritual, yaitu melalui pendidikan. Tentunya pendidikan yang mengentaskan. Oleh karena itu pendidikan lah yang harus kita perhatikan bersama, kita tumbuh kembangkan bersama, kita perbaiki, kita majukan seiring tantangan era globalisasi dengan harapan yang lebih baru (newer hope).

Sumber:
http://www.wordwebonline.com/en/NEW
https://books.google.co.id/books

Sunday, 13 November 2016

Fantasi dan Implementasi Dalam Dunia Pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Psikologi pendidikan berkaitan erat dengan proses pembelajaran. Psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Psikologi pendidikan berpusat pada kegiatan belajar yang persoalannya melekat pada peserta didik. Maka pendidik dalam hal ini guru seyogianya menguasai bidang ilmu psikologi pendidikan. Hal itu penting agar guru dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan menciptakan situasi dan kondisi yang memiliki daya dukung dan daya dorong yang baik terhadap tindakan belajar peserta didik yang efektif. Banyak faktor psikologis yang dapat mempengaruhi keberhasilan tindakan belajar, diantaranya adalah fantasi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut. 
1. Apa pengertian dan klasifikasi fantasi?  
2. Apa nilai guna dan kekurangan fantasi 
3. Apa implementasi fantasi dalam pendidikan?

BAB II
FANTASI DAN IMPLIKASI DALAM DUNIA PENDIDIKAN
A. Fantasi
1. Definisi
Fantasi adalah daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada, dan tanggapan baru tersebut tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada. Fantasi memungkinkan manusia untuk berorientasi dalam alam imajiner, melampaui dunia riil. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), fantsi memiliki pengertian sebagai berikut.
a. Gambar (bayangan) dalam angan-angan; khayalan
b. Daya untuk menciptakan sesuatu dalam angan-angan.
c. Hiasan tiruan

2. Klasifikasi
Fantasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.
a. Tak disadari
Fantasi yang terjadi dengan tak disengaja (melampaui dunia riil dengan tidak sengaja). Contoh: orang yang berkata tidak benar tetapi tidak bermaksud untuk berdusta. Biasanya terjadi pada usia anak-anak yang masih kental dengan dunia khayal.
b. Disadari
Fantasi yang terjadi disengaja dan diikuti dengan adanya usaha dari subjek untuk masuk ke dalam dunia imajiner.

1) Aktif
Fantasi aktif mempunyai pengertian sebagai fantasi yang dikendalikan oleh pikiran dan kemauan. Dapat dibedakan lagi sebagai berikut.
a) Mengabstrasikan
b) Mendeterminasikan
c) Mengombinasikan

Fantasi disadari (aktif) memiliki dua sifat. Pertama mencipta, yaitu fantasi yang mampu menciptakan atau mengadakan tanggapan-tanggapan yang benar-benar baru. Sebagai contoh adalah seseorang yang mengarang cerita, atau anak-anak menciptakan alat permainan. Pada masa anak-anak pra sekolah perkembangan kognitifnya ditandai dengan berfantasi. Pada masa ini perkembangannya pada periode preoperasional dapat juga dikatakan dengan semiotic function, yaitu kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol (bahasa, gambar, tanda, benda, dan peristiwa). Anak-anak dapat menggunakan kata-kata, peristiwa dan benda untuk melambangkan yang lainnya. Misalnya kata "kapal terbang" dapat menggunakan kursi sebagai kapal terbang. Kedua terpimpin, yaitu fantasi yang mengikuti gambaran angan-angan (buah fantasi) orang lain. Sebagai contoh adalah anak yang mendengarkan cerita atau tari kreasi baru.

2) Pasif
Fantasi pasif adalah fantasi yang tidak dikendalikan dan seolah-olah hanya sebagai wadah tempat bermainnya tanggapan-tanggapan.
a)  Mengabstrasikan
b) Mendeterminasikan
c) Mengombinasikan

Adapun arti dari ketiga sifat fantasi tersebut (baik aktif maupun pasif) adalah sebagai berikut.
a)  Mengabstrasikan
Dalam proses berfantasi ada bagian-bagian yang dihilangkan. Sebagai contoh tanggapan terhadap lapangan tanpa rumput dan tumbuhan lain maka akan tercipta angan-angan semisal : padang pasir.
b) Mendeterminasikan
Dalam berfantasi sudah ada skema tertentu, kemudian diisi dengan gambaran yang lain. Sebagai contoh adalah tanggapan telaga, tetapi dalam berfantasi diperbesar dan diperluas, maka dapat muncul angan-angan semisal: lautan
c) Mengombinasikan
Fantasi yang menggabungkan bagian dari tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya. Contohnya adalah gambaran kepala harimau dikombinasikan dengan tubuh manusia, maka terciptalah angan-angan semisal dewa harimau.


3. Nilai Guna dan Kekurangan Fantasi
Ada beberapa manfaat fantasi dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut.
a, Memungkinkan orang menempatkan diri dalam keprihatinan orang lain, sehingga dapat memahami sesama.
b. Memungkinkan orang untuk menyelami sifat-sifat kemanusiaan secara umum.
c. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari ruang dan waktu.
1) Memahami apa yang terjadi di temapt lain (belajar geografi)
2) Memahami apa yang terjadi untuk melepaskan di waktu yang lain (belajar sejarah)
d. Memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari kesukaran hidup.
e. Memungkinkan manusia untuk menciptakan sesuatu yang dikejar.
f. Memungkinkan orang untuk menyelesaikan konflik riil secara imajiner.
g. Seniman dapat menghasilkan ciptaan yang indah sehingga dapat dinikmati orang lain.
h. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat menemukan pendapat-pendapat baru yang penting di dunia ini.
i. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat menanggap sesuatu pada masa lampau.
j. Melalui fantasi memungkinkan orang dapat merencanakan hidup kita pada pada waktu yang akan datang

Selain memiliki nilai guna, fantasi juga memiliki keukrangan yang dapat juga membahayakan, antara lain:
a. Kalau sering dan berlebihan-lebihan berfantasi yang indah-indah, biasanya orang tidak tahan ketika mengalami kesulitan hidup, orang akan menjadi mudah putus ada ketika kembali pada dunia riil.
b. Melalui fantasi orang akan mudah berdusta, lebih pada anak-anak
c. Dalam merencanakan hidup orang mudah berfantasi, tetapi secara nyata tidak dapat terlaksana.
d. Fantasi yang tanpa pimpinan dan penjagaan akan mudah sekali menjadi fantasi yang jauh dan liar. Orang akan cenderung menjadi pelamun atau penghayal.

B. Implementasi Fantasi Dalam Dunia Pendidikan
Usia anak merupakan usia khayalan, sehingga berdasarkan telaah tentang fantasi di atas dapat di implementasikan dalam dunia pendidikan, di antaranya meliputi hal-hal berikut.
1. Daya berfantasi siswa sangat perlu dikembangkan secara terpimpin untuk kepentingan dan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.
2.  Siswa perlu dilibatkan secara aktif dan bertanggung jawab dalam pembelajaran, sehingga terasah fantasinya dalam memahami materi pembelajaran tertentu, semisal sejarah, dongeng-dongeng, ilmu alam, dsb.
3. Memilih topik pembelajaran yang tepat supaya perkembangan fantasi anak terarah pada hal-hal positif dan bagus untuk kemajuan belajar.
4. Melalui fantasi, anak dapat diajarkan masalah-masalah yang tidak bisa diamati secara langsung (sejarah, dongeng-dongeng, ilmu alam, dsb.)
5. Melalui fantasi terpimpin guru dapat membentuk watak anak.
6. Melalui fantasi terpimpin guru dapat meningkatkan kreatifitas anak dan dapat mengujinya melalui tes kreatifitas.
7. Diperlukan suatu setting pembelajaran yang dapat menjaga anak-anak  dari fantasi yang berlebihan-lebihan, liar, dan menimbulkan dusta.

BAB III
PENUTUP

Melalui telaah faktor psikologis siswa, guru dapat lebih memahami arti penting psikologi pendidikan untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Telaah tentang definisi fantasi, nilai guna, dan kekurangan fantasi, guru diharapkan dapat mengimplementasikannya dengan tepat untuk kemajuan dan keberhasilan proses pembelajaran di sekolah.


Sumber:
Vita Andriana, dkk. 2009. Makalah S1 PGSD UNY: Fantasi, Ingatan, dan Berpikir. 
http://kbbi.web.id/fantasi

Thursday, 10 November 2016

Nulis Ariwarti lan Kalawarti Abasa Jawa

Micara bab tulis-tinulis ing ariwarti lan kalawarti abasa Jawa iku pancen gampang-gampang-angel. Apa maneh nulis babagan budaya Jawa kang asipat simbolik-filosofis. Gampang tumrape para priyayi kang wis padha wasis lan kompeten dadi panggaotan ing saben dinane, kayata para budayawan abasa Jawa, jurnalis utawa redaktur ariwarti-kalawarti abasa Jawa. Angel tumrape racak-racaking para Dwija kang senadjan wasis ing babagan ngilmu tartentu, ananging durung kulina nulis utawa mbabar ngilmune ing media ariwarti lan kalawarti abasa Jawa. Nulis nganggo media ariwarti lan kalawarti iku pancen mbutuhke ngilmu, perlu seneng maca, uga gelem gladen kanthi keuletan, kaprigelan, patrap kang kritis lan thitis.

Miturut katrangan ing kalawarti abasa Jawa saka Dinas Kebudayaan DIY, Sempulur edisi 1/2016, Wose pancen uga durung akeh para Dwija kang ngastha mata pelajaran Basa Jawa ing pawiyatan kersa nulis ing kalawarti abasa Jawa. Mula panulis arep nyoba melu gladhen mbabar ide lan gagasan panulis kanthi abasa Jawa lumantar media blog kanthi labels "Budaya Jawa". Amarga ing budaya Jawa iku akeh banget nilai-nilai Pendidikan Karakter utawa piwulang becik kang bisa kanggo mbentuk budi pakertining para siswa.  Ing pangajab panulis bisa tansah melu nyengkuyung regenging budaya Jawa ing Dunia Pendidikan murih Budaya Jawa bisa sansaya ngrembaka, nengsemake, uga lestari ing bumi pertiwi.

Pengertian Teks Prosedur

Teks prosedur adalah teks yang berisi langkah-langkah atau cara penggunaan atau membuat suatu produk.Teks prosedur disebut juga teks instruksi. Teks prosedur dapat ditulis dalam bentuk paragraf ataupun berbentuk kalimat-kalimat yang dituliskan secara runtut guna menjelaskan langkah-langkah atau cara penggunaan/pembuatan produk tertentu. Salah satu teks prosedur contohnya: teks resep maka

Thursday, 3 November 2016

Guruku Idolaku, Siapa Idolamu?


Kiranya tidak asing bagi kita yang sekolah di SD sekitar tahun 90-an oleh para guru sering ditanya, "Siapa idolamu?" Tentunya beragam pula jawaban anak-anak kala itu. Banyak tokoh yang disebut sebagai jawaban dari pertanyaan guru, seperti tokoh Nabi, para sahabat, Kyai, ulama, presiden, orang tua, guru, tokoh masyarakat, tokoh sejarah, artis, tokoh luar negeri, atau tokoh dalam negeri. Ada anak-anak yang menjawab hanya satu idola ada pula murid yang menjawab memiliki lebih dari satu idola. Ada yang menjawab mantap ada yang harus pause dulu untuk berpikir dalam menjawab. Ada anak-anak yang menjawab tokoh nyata, tetapi tidak sedikit pula anak-anakyang dengan PD-nya menyebut tokoh fiktif semacam pendekar-pendekar yang ada di film atau cerita, entah mungkin karena murid bingung, ingin sekedar lucu-lucuan, atau memang karena terinspirasi dari tokoh fiktif tersebut. Jawaban sangat beragam seberagam murid-murid SD kala itu.

"Siapa idolamu?", tanya guru penulis kepada semua murid di kelas. Pada waktu itu dengan cara pikir kami yang spontan, sederhana, dan polos ala anak-anak, kami kebanyakan menjawab Nabi Muhammad, Ir.Soekarno, Bapak, Ibu, Guru, Pak Habibie, Jenderal Ahmad Yani, Ibu kita Kartini, KH. Zaenudin MZ, Bery Prima, dan Nike Ardhila. Ya, memang idola anak-anak sangat beragam antara satu dengan yang lain. Teman-teman yang memilih Nabi Muhammad mengatakan bahwa, beliau adalah memang suri tauladan bagi umat. Sementara teman-teman yang memilih Ir. Soekarno adalah karena bangga atas jasa-jasanya untuk Indonesia. Teman-teman memilih idola artis karena suaranya yang merdu, cantik, atau gagah dan ganteng. Sedangkan teman-teman yang memilih Jenderal Ahmad Yani karena gagah berani dan berjuang untuk Indonesia. Ketika saya dan teman-teman ditanya alasannya memilih tokoh itu memang sangat beragam, dan kadang pula ada yang membuat sekelas tertawa dan guru tersenyum. Waktu itu guru kami tak mempersoalkan siapa yang menjadi idola kami, tetapi yang terpenting adalah kami diminta untuk mengidolakan tokoh yang memiliki akhlak yang terpuji, budi pekerti atau unggah-ungguh yang baik, bisa dicontoh, senang berbuatk kebaikan, cinta tanah air,  taat beribadah, dan menjadi penyemangat mencapai cita-citamu yang mulia.

Perbedaan tokoh idola anak-anak merupakan hal yang lazim. Hal itu pada dasarnya dipengaruhi oleh latar belakang anak, meliputi pengetahuan dan wawasan anak, pendidikan anak, lingkungan keluarga, dan masyarakat di mana anak-anak tumbuh dan berkembang. Anak-anak yang berasal dari keluarga dan masyarakat kental atau minimal dekat dengan kehidupan pesantren umumnya akan menjawab Nabi Muhamad, para sahabat, atau dari kalangan ulama Kyai. Anak-anak yang menyukai sejarah akan menjawab Ir. Soekarno, Jenderal Ahmad Yani, dan tokoh-tokoh perjuangan. Anak-anak yang senang dengan tokoh-tokoh cerdas akan memilih Pak Habibie. Anak-anak yang sangat dekat dengan orangtua atau guru, mereka umumnya banyak menjawab orangtua dan gurulah idola mereka. Anak-anak perempuan yang suka akan tokoh perempuan sering memilih Ibu Kita Kartini sebagai idola mereka. Anak-anak memilih idola artis karena ingin bisa benyanyi dengan suara merdu, ingin cantik, atau ingin ganteng.

Menurut pengamatan penulis, pengidolaan anak terhadap seorang tokoh ada dua sifat yaitu tetap dan dinamis. Dari kedua sifat tersebut, umumnya pengidolaan anak terhadap tokoh bersifat dinamis. Dinamis di sini berarti bahwa, pengidolaan anak terhadap tokoh dapat berubah seiring tumbuh kembang anak dalam lingkungannya. Seiiring bertambahnya pengetahuan dan wawasan, serta adanya pengaruh lingkungan, idola anak akan dapat berubah dari tokoh satu kepada tokoh yang lain. Perubahan pengidolaan tokoh ini dapat berkurang, beralih, atau bertambah. Tokoh yang diidolakan anak ketika masih usia sekolah dasar mungkin berbeda ketika remaja. Hal itu mungkin pula berubah ketika sudah dewasa. Pengidolaan bersifat tetap manakala tokoh yang merupakan panutan adalah tokoh yang memang ideal. Ideal di sini dapat dilihat dari sisi baik secara agamanya dan baik pula secara kehidupannya. Sebagai muslim tentunya banyak anak-anak mengidolakan idola tetap, yaitu Nabi Muhammad dan idola tokoh lain seperti Ir. Soekarno, dll.


Bagaimana penulis menjawab pertanyaan "Siapa idolamu?" Penulis sedikit refleksi ke belakang ketika masih di sekolah dasar sekitar tahun 1996 dan 1998. Guruku adalah idolaku. Penulis mantap menjawab Pak Umar. Sekedar informasi, Pak Umar adalah guru kelas IV waktu itu. Beliau adalah guru yang menurut saya baik hati karena sering meminjami buku-buku. Sebagai sekretaris kelas, saya sering dipinjami buku-buku pelajaran milik untuk dibaca dan dicatat di rumah serta dikembalikan esok harinya. Saya dipinjami karena saya mencatatkan di papan tulis, yang otomatis saya tertinggal catatan apa yang saya tuliskan di papan tulis dibanding teman-taman. Waktu itu saya menunaikan tugas mencatat di papan tulis dengan senang hati, tidak ada rasa terpaksa atau nge-grundel atau nge-dumel. Tentu sangat berbeda dengan kondisi SD saat ini. Sepengamatan penulis sejak tahun 2009 sampai sekarang tahun 2016, tidak ada lagi guru yang menugaskan siswanya mencatatkan materi pelajaran di papan tulis.

Tidak adanya lagi siswa yang diminta mencatatkan materi pelajaran di papan tulis oleh guru, disebabkan dua hal. Pertama sebagai akibat perubahan paradigma baru pendidikan di mana otoritas guru menjadi semacam "tereduksi" dengan istilah sebagai fasilitator dengan siswa sebagai subjek didik yang aktif memperoleh dan mengkonstruksi pengetahuaannya sendiri dalam pembelajaran. Sepengamatan dan sepengetahuan penulis, dulu guru merupakan sosok sentral pembelajaran di kelas. Sekarang siswalah yang merupakan sentral pembelajaran. Sebagai sentral pembelajaran sekaligus subjek didik, siswa memperoleh pengetahuan tidak hanya sering dari proses, "catat-simak-latihan-evaluasi". Lebih jauh siswa dapat memperoleh pengetahuannya dengan membaca buku-buku atau sumber-sumber lain yang relevan. Sebab kedua adalah karena sekarang pembelajaran didukung 1 siswa 1 buku per mata pelajaran. Buku pelajaran merupakan hal yang bukan asing lagi dimiliki oleh setiap peserta didik. Bahkan buku pun merupakan salah satu poin terpenuhinya standar pelayanan minimal (SPM) di setiap sekolah di Indonesia.  Berbeda dengan ketika penulis masih SD. Waktu itu tidak semua anak memiliki buku pelajaran sendiri, memiliki buku pelajaran sendiri masih merupakan sesuatu yang langka. Buku hanya dimiliki oleh anak-anak yang tergolong dari keluarga berada.

Dalam dunia pendidikan pesantren, ditugasi oleh guru merupakan "keberkahan" tersendiri. Banyak santri yang meski tidak ditugasi (disuruh)/bukan tugas, dengan inisiatif sendiri mencari "keberkahan" itu, misal menata sandal Kyai di masjid. Saya memang senang dengan tugas mencatat di papan tulis. Alih-alih terpaksa dengan tugas dari Pak Umar, malah semacam saya dapat berkah dengan seringnya nangkring di peringkat lima besar. Tentu bukan karena saya dapat bocoran atau kunci jawaban, tetapi karena seringnya membaca buku miliki guru, saya menjadi selangkah lebih dulu tahu dan paham materi-materi yang akan diajarkan tiap pertemuan satu dengan pertemuan berikutnya.  "Keberkahan" tugas dari guru saya sewaktu SD, ternyata saya rasakan juga setelah saya lulus. Hal itu terasa ketika saya mengikuti ujian wawancara dan praktik simulasi mengajar dalam seleksi penerimaan mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta, alhamdulillah saya diterima. "Keberkahan" itu pun semakin terasa dengan sekarang penulis dapat mewujudkan cita-cita menjadi guru.



Sumber :
http://pitoyo.com/pitoyoamrih
http://eprints.ums.ac.id/38912/1/02.%20Naskah%20Publikasi.pdf
http://www.ummi-online.com/menjadikan-rasulullah-sebagai-idola-anak-anak-kita.html
http://www.jawapos.com/
http://www.jawapos.com/read/2016/10/19/58457/berapa-persen-orang-cantik-/3
http://sinopsisdramajepang.blogspot.co.id/2016/03/sinopsis-natsumis-firefly-film-jepang.html

Tuesday, 25 October 2016

Fakta, Masalah, dan Solusi

Sebuah Analisa Implikasi Tren  "Fakta, Masalah, dan Solusi" dalam Pembelajaran di Kelas

Berbicara tentang kata "fakta", "masalah", dan "solusi" sepertinya kini menjadi sebuah tren tersendiri di kalangan anak muda yang telah menonton film Rudi Habibie. Cukup menarik untuk diulas bagaimana film tersebut diangkat dari kisah nyata (thrue story) Presiden RI ke-3, dan mampu menyihir bahkan menginspirasi banyak kalangan terutama anak muda. Akan tetapi penulis tidak akan membahas tentang film dalam kacamata dunia perfileman itu sendiri karena memang di luar kapasitas penulis. Penulis mencoba menarik benang merah dengan dunia pendidikan. Bagaimana konsep-konsep pemikiran dan implikasi dapat dibangun berdasarkan inspirasi dari sebuah film yang menurut penulis layak diacungi jempol di tengah semakin kaburnya muatan pendidikan dalam dunia perfileman Indonesia.

Fakta dunia pendidikan Indonesia saat ini adalah sedang mengalami tumbuh kembang di mana banyak perubahan-perubahan yang terjadi, di antaranya penyempurnaan kurikulum 2013 menjadi kurikulum nasional. Fakta lain adalah adannya wacana tentang fullday school, guru kesulitan membuat penelitian tindakan kelas (PTK), sarana prasarana sekolah belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP), rendahnya minat baca, dan profesionalisme guru. Ada banyak fakta-fakta lain dari skala mikro maupun makro. Dalam lingkup kecil saya coba contohkan di sekolah penulis ada fakta bahwa untuk penerapan kurikulum 2013 masih banyak mengalami kendala. Fakta juga bahwa guru-guru muda di sekolah banyak kesulitan dalam pengembangan diri guna mendapatkan diklat. Hal itu terkait erat dengan usaha kenaikan pangkat. Tak hanya guru muda, guru-guru yang notabene senior pun mengalami kesulitan. Para guru yang sudah golongan IV/a kesulitan dalam menelorkan sebuah karya penelitian guna meraih IV/b. Siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran, sebagian siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran, dsb.

Banyak memang fakta-fakta di sekolah yang kiranya tidak cukup untuk dituliskan dalam sebuah artikel. Fakta itu tak hanya yang negatif, tetapi ada juga fakta-fakta positif tentunya, semisal hilangnya perpeloncoan dalam masa orientasi sekolah (MOS). MOS yang sepertinya sudah menjadi penyakit menahun dengan adanya berita-berita miring perpeloncoan kakak kelas terhadap adik kelas, sekarang telah menjadi angin lalu. Berganti dengan pengenalan lingkungan sekolah yang lebih efektif, edukatif, partisipatif, komprehensif, dan tentunya humanis. Inisiasi gerakan mengantar anak sekolah di hari pertama masuk. Ada pula diklat Guru Pembelajaran yang seakan menjadi angin segar terutama bagi guru muda dalam usaha meningkatkan profesionalismenya. Beberapa sekolah telah menerapkan KKM 75 untuk menuju SNP tentu sangat menggembirakan. Hasil ujian nasional dan idndeks kejujuran peserta sebagai salah satu alat ukur keberhasilanpun sudah lebih bagus.

Hal ihwal masalah pembelajaran di dunia pendidikan tentunya banyak sekali. Masalah dunia pendidikan di Indonesia dapat dikatakan seusia dengan kemerdekaan Indonesia. Artinya bahwa masalah itu selalu ada dan seiring tumbuh kembangnya peradaban Indonesia. Masalah kendala kurikulum, masalah pro kontra fullday school, masalah penulisan PTK, masalah profesionalisme guru, masalah sarana dan prasarana sekolah, dsb. Masalah ada dari lingkup kecil sampai sekala nasional. Masalah dalam pembelajaran tentunya akan berimplikasi langsung dengan prestasi peserta didik. Akan tetapi masalah klasiknya adalah kurang maksimalnya prestasi peserta didik.

Menganalogikan "fakta, masalah, dan solusi", tentu ada benang merah untuk kita implementasikan dalam pembelajaran di kelas pada khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Pertama implikasi dalam setiap kebijakan yang diambil dalam dunia pendidikan. Kebijkan yang diambil haruslah melihat fakta yang ada, masalah yang terjadi, kemudian membuat solusi yang benar-benar solutif. Kedua implikasi dari sikap pendidik. Pendidik sudah seyogianya mampu melihat fakta-fakta peserta didik dan masalah-masalah yang mereka alami dalam pembelajaran. Tentu dengan begitu guru dapat memberikan solusi pemecahan masalah untuk peserta didik. Begitupula peserta didika harus paham akan fakta yang ada dan masalah yang ia alami untuk kemudaian bersama pendidik mencari solusi.