Friday, 21 July 2017

Ongkek dari Dusun Blancir

      Ongkek merupakan salah satu kerajinan di Dusun Blancir. Ongkek adalah bentuk modifikasi dari tiang jemuran. Pada umumnya tiang jemuran di desa-desa berbentuk huruf T. Tiang jemuran di desa-desa kebanyakan terbuat dari kayu atau bambu yang dibentuk seperti huruf T. Tiang itu kemudian di tancapkan ke tanah dan dikat dengan rentangan tali untuk menghubungkan tiang satu dengan tiang lainnya. Tiang jemuran berbentuk T ini bersifat tetap tidak dapat dipindah. Hal itu menjadi masalah tersendiri bagi para ibu di desa jika musim hujan. Tentunya kadang merepotkan karena harus ngentasi atau memulung jemuran, padahal keburu hujan pada saat ibu-ibu sedang sibuk memasak, momong si kecil, atau aktivitas lain yang sedang nanggung tidak bisa ditinggal. Hal itu lah yang menjadi pemikiran para pengrajin di Dusun Blancir untuk memodifikasi tiang jemuran menjadi ongkek. Tujuannya sederhana untuk memudahkan ibu-ibu menjemur pakaian dan memulung pakaian jika musim hujan. 
      Pengrajin ongkek di Dusun Blancir ada beberapa orang, tetapi yang cukup dikenal sampai di beberapa desa sekitar adalah Pak Mami. Ongkek Pak Mami begitu saya menyebutnya, merupakan ongkek yang terbuat dari bambu petung. Bambu petung adalah salah satu jenis bambu besar yang bisa tumbuh hingga batangnya berdiameter sekitar 20cm. Ongkek Pak Mami dibuat dengan tinggi 160 cm dan lebar 200cm serta difinishing dengan cat minyak dengan warna biru, merah muda, hijau, atau sesuai pesanan . Ongkek dibuat dengan bentuk saling silang adegan dan saling palang dawanan. Ongkek Pak Mami dibuat dengan delapan adegan atau tiang penyangga utama ongkek, empat cendekan atau tiang penyangga, dan sembilan dawanan. Adegan, cendekan, dan palangan ongkek dirangkai sedemikan rupa, sehingga kalau dilihat dari samping seperti huruf Y dan V yang saling terhubung. Rangkaian ongkek ini dapat megar-mingkup sesuai kebutuhan. Jika digunakan ongkek dimegarke atau dilebarkan. Pada saat tidak digunakan atau ingin memindahkan ongkek cukup dimingkupke atau dimampatkan agar ringkas. 
      Adanya ongkek ternyata cukup membantu para ibu dalam aktivitas menjemur pakaian. Pada saat musim hujan pun kegiatan menjemur pakaian menjadi praktis, karena ongkek mudah dipindahkan jika sewaktu-waktu hujan. Ongkek dapat diletakkan di teras rumah untuk sekedar mengangin-anginkan pakaian kala hujan turun. Bobot ongkek pun tidak terlalu berat, berkisar 2-3 kg, sehingga ibu-ibu terbiasa memindahkan ongkek sendirian tanpa dibantu. Ongkek pun menjadi solusi utuk keluarga yang ingin memiliki tiang jemuran praktis tapi tidak memiliki uang cukup untuk membeli tiang jemuran lipat berbahan alumunium. Harga ongkek berkisar Rp 80.000-100.000. Ongkek barang sederhana memang, tapi cukup ekonomis, praktis, dan solutif. Para pembeli biasanya dapat datang langsung ke Dusun Blancir atau pesan ongkek untuk diantarkan ke rumah. 

Thursday, 20 July 2017

Rigen dari Dusun Blancir

      Rigen merupakan salah satu hasil kerajinan dari Dusun Blancir yang terletak di Desa Pesidi, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Rigen adalah anyaman berbahan dasar bambu yang terdiri atas iratan, gambangan, pegesan, dan gapit. Rigen dibuat dengan tangan atau handmade. Rigen berbentuk persegi panjang. Cara pembuatan rigen dimulai dengan pemotongan bambu, dilanjutan pengiratan, penjemuran iratan, pembuatan gambangan, membuat wiwitan, penganyaman iratan, pembuatan gapit, pembuatan pegesan, dan diakhiri dengan proses nggapiti. Waktu yang diperlukan untuk membuat rigen kira-kira 2 buah rigen perhari. Rigen biasa digunakan untuk alas menjemur tembakau, ceriping, rengginan, krecek, krupuk, puyur, dan slondok. Ukuran rigen ada rigen cilik, sedengan, dan gede. Harga rigen dari pengrajin langsung berkisar antara Rp 15.000 s.d. Rp 20.000.
      Di Dusun Blancir dikenal adanya musim rigen. Musim rigen adalah musim di mana di dusun ini akan dijumpai kesibukan yang luar biasa dari pagi hingga tengah malam untuk membuat rigen. Pada musim rigen anak-anak hingga orang tua, pria maupun wanita ikut terlihat sibuk baik sebagai pembuat utama rigen maupun sekadar membantu. Musim rigen di dusun Blancir merupakan rutinitas hampir setiap tahun pada musim kemarau. Pada musim kemarau sekitar bulan April-Agustus pesanan rigen dari luar daerah seperti Kabupaten Temanggung akan banyak. Hampir setiap hari akan terlihat ada truk masuk maupun keluar dusun untuk mengantar bahan bambu atau mengantarkan pesanan yang sudah jadi. Rigen dibuat oleh hampir 70 persen penduduk dusun. Menariknya pada malam hari dusun akan tetap terlihat ramai dan terang baik di dalam rumah maupun di halaman rumah. Biasanya penduduk memasang beberapa lampu neon panjang di halaman rumah untuk membuat rigen bersama-sama tetangga atau teman. Sebagai hiburan penduduk juga menyiapkan tape atau radio untuk rengeng-rengeng. Pada musim rigen dusun akan terlihat sepi menjelang pukul dua dini hari.

Pengertian Paragraf

Paragraf adalah serangkaian kalimat yang disusun secara sistematis, logis, dan saling berhubungan membentuk satu kesatuan bahasan. Dalam sebuah karangan setiap awal paragraf ditulis 6 spasi menjorok ke dalam. Paragraf disebut juga alinea. Setiap paragraf memiliki hanya satu ide pokok. Letak ide pokok terdapat dalam kalimat utama. Dalam paragraf terdapat kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat utama menjadi pijakan berpikir dalam memahami ide pokok yang disampaikan dalam paragraf. Kalimat penjelas dalam paragraf berfungsi merinci atau menjabarkan secara lebih dalam dan luas apa isi dalam kalimat utama. Selain merinci dan menjabarkan, kalimat penjelas dapat juga berupa contoh-contoh yang mendukung isi dalam kalimat utama.

Berikut ini contoh paragraf sederhana.

      Dusun Blancir dikenal sebagai dusun pertanian, pertukangan, dan kerajinan. Hampir tujuh puluh persen penduduk di dusun ini bermata pencaharian sebagai petani sekaligus tukang, dan pengrajin. Tiga puluh persennya bermata pencaharian sebagai guru, pamong praja, karyawan toko, dan pedagang. Para penduduk utamanya bertani jagung, ketela, dan padi. Di sela-sela bertani, para penduduk juga mahir menjadi tukang bangunan atau kayu. Barang-barang kerajinan juga dihasilkan oleh para penduduk, seperti rigen, irus, centhong, tas anyaman plastik, keranjang, kepang, dan tikar mendong. Uniknya dari dusun ini adalah para pengrajinnya tidak hanya didominasi oleh kaum adam, tetapi kaum hawa pun ikut andil besar menjadi pengrajin. Bahkan anak-anak seusia sekolah dasar sudah dapat ikut membantu proses pembuatan barang kerajinan meski hanya sederhana semacam membuat anyaman tali untuk kerajinan anyaman tas. Setiap satu utas anyaman tali yang dibuat biasanya dihargai Rp 100. 

Thursday, 27 April 2017

Katentreman Urip

Bismillahirohmanirrohim. 
Kanthi nyebut asamanipun Allah kang maha welas lan maha asih.

"Urip iku ora mayar,"kandhane Pak Budi duk nalika semana mulang bacah-bocah ana ing sekolah menengeh tingkat pertama. Yen di onceki ukara mau pancen yo ngemu teges kang ora sithik. Apa maneh ing jaman modern iki bisa kasebut, hidup itu kompleks. Akeh panggredone, mulo kudu urip kanthi ngati-ati lan waspada. Urip ora cukup mung pinter, sugih, duwe pangkat, ayu, utawo bagus. Ananging sejatine urip iku mbutuhake katentreman lair uga batin. Kantentreman lair uga batin tumrape wong Islam iku yen bisa cedak karo sing kuasa, yo Allah pengeran kang hak wajib den sembah. 

Wong tentrem iku yen lakune tansah bener manut syariat agama. Akhlake becik lan mulyo marang sapada-pada. Pasrawungane apik kanthi tuntunan agama, marang kanca uga tangga. Keluargane rukun pada nyengkuyung laku utama. Atine resik lan tansah eling kanthi dzikrullah. Mula pancen bejo tenan wong kang uripe tansah dirahmati dening Allah kang mengerani wong ngalam kabeh. Insyaallah ora mung bejo dunya ananging uga mbesuk ana akhirate. Mula muga-muga wong Islam kabeh ing ngalam dunya tansah dipun rahmati dening Allah pengeran kang maha welas lan maha asih. Amin.

Alhamdulillahirobbilalamin.

Wednesday, 7 December 2016

LAPORAN WAJIB KUNJUNG MUSEUM (WKM) 2016



LEMBAR PENGESAHAN

  Laporan pertanggungjawaban Wajib Kunjung Museum (WKM) telah disahkan di sleman pada tanggal ................................ oleh:



Kepala SD ...............................


.................................................
NIP ..........................................







KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Kunjungan Museum (WKM) tahun 2016. Laporan ini disusun untuk memenuhi kewajiban kami kepada Dinas Kebudayaan DIY sebagai bukti telah mengadakan kegiatan WKM.
            Kegiatan WKM SD ........................, ............. terselenggara dengan bantuan dan dukungan banyak pihak. Dengan demikian kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.      Kepala Dinas Kebudayaan DIY yang telah memberikan  kesempatan kepada kami mengikuti dan melaksanakan WKM tahun 2016;
2.      Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman yang telah memberikan ijin pembelajaran di luar kelas.
3.      Pemandu Wisata Dinas Kebudayaan DIY yang telah memberikan informasi dan wawasan kepada peserta WKM selama berada kunjungan.
4.      Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.

Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari masih ada kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca, kami mohon  saran dan  kritik yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. Kami berharap semoga laporan ini berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan pembaca.




PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu modal penting pada masa sekarang. Melalui proses pendidikan dan pembelajaran diharapkan dapat membawa peserta didik untuk mewujudkan cita-cita dan impiannya di masa depan. Proses belajar bagi siswa tidak hanya dapat dilakukan di sekolah saja, tetapi dapat juga dilakukan melalui proses pembelajaran di luar kelas. Dalam mewujudkan proses pembelajaran di luar kelas, kami mendorong siswa untuk lebih memahami sejarah dan meningkatkan kecintaan akan membaca. Proses pembelajaran  dilakukan melalui kunjungan ke Museum Sejarah Purbakala Pleret dan perpustakaan Grahatama Pustaka. Kegiatan kunjungan terlaksana atas kerjasama Dinas Kebudayaan, yaitu melalui program Wajib Kunjung Museum (WKM) tahun 2016. Dalam kegiatan kunjungan ini, peserta didik diharapkan dapat meningkatkan motivasinya untuk menggali dan meng-up grade potensi, pengetahuan, dan wawasan sejarah guna mengoptimalkan prestasi belajar di SD .............................

B.     Tujuan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, tujuan dilaksanakannya kegiatan Wajib Kunjung Museum SD ............................. adalah sebagai berikut.
1.      Mengenal lebih dekat tentang Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatam Pustaka.
2.      Meningkatkan motivasi dan kecintaan akan membaca.
3.      Meningkatkan pemahaman akan sejarah.
4.      Meningkatkan motivasi peserta didik untuk menggali dan meng-up grade potensi, pengetahuan, dan wawasan sejarah guna mengoptimalkan prestasi belajar di sekolah..

C.     Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan peserta didik SD ............................ dalam pelaksanaan kegiatan Wajib Kunjung Museum adalah sebagai berikut.
1.      Kenal lebih dekat tentang Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatam Pustaka.
2.      Meningkat motivasi dan kecintaan membaca
3.      Bertambah pemahaman akan sejarah
4.      Meningkatkan motivasi berprestasi


PELAKSANAAN WKM

A.    Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari          : Selasa
Tanggal     : 29 November 2016
Waktu      : 08.30-14.30
Tempat     : Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatama
 Pustaka
B.     Peserta
Kegiatan Wajib Kunjung Museum (WKM) diikuti oleh sejumlah ........ peserta terdiri atas ............. pendamping, ............ siswa kelas ..........., dan ......... siswa kelas ..............
C.    Jadwal Kegiatan
Kegiatan Wajib Kunjug Museum (WKM) dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut.
No.
Kegiatan
Hari, tanggal
Waktu
Keterangan
1
Rapat Kordinasi WKM di Dinas Kebudayaan DIY
Selasa, 25 Oktober 2016
10.00-selesai
Ditentukan:
1. Tujuan: Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Grahatama Pustaka
2. Pelaksanaan: Selasa, 29 November 2016
2
Rapat Kordinasi WKM di sekolah
Rabu, 26 Oktober 2016
10.00-selesai
1. Penyampaian hasil rapat kordinasi WKM di Dinas Kebudayaan DIY
2. Pembentukan Panitia
3. Pembahasan persiapan yang dibutuhkan
3
Pengajuan Ijin WKM ke Dinas DIKPORA Kab. Sleman
Jumat, 28 Oktober 2016
13.00
Ijin diterbitkan oleh Dinas DIKPORA Kab. Sleman tertanggal ......................dengan No. ..........................
4
Persiapan, pembekalan, dan doa
Selasa, 29 November 2016
07.00-08.30
Pembekalan dan doa oleh ....................
5
Berangkat
08.30
Peserta WKM berangkat dengan menggunakan tiga bus Dinas Kebudayaan DIY
6
Kunjungan ke Museum Sejarah Purbakala Pleret
19.30-11.00
Kunjungan dipandu oleh Pemandu Dinas Kebudayaan DIY dan Museum Sejarah Purbakala Pleret
7
ISOMA
11.30-12.20

8
Kunjungan ke Perpustakaan Grahatama Pustaka
12.20-14.30
Kunjungan dipandu oleh Pemandu Dinas Kebudayaan DIY dan Grahatama Pustaka
9
Pulang
14.30
Sampai di sekolah pukul 15.00 WIB
10
Rapat evaluasi WKM di sekolah
Rabu, 30 November 2016
10.00-selesai
1. Evaluasi pelaksanaan WKM
2. Pembubaran panitia Panitia
3. Penyusunan laporan pertanggungjawaban WKM untuk dilaporkan ke Dinas Kebudayaan DIY




MUSEUM YANG DIKUNJUNGI

A.     Museum Sejarah Purbakala Pleret
Sesuai jadwal kami berkunjung ke museum sejarah Purbakala Pleret pada pukul 09.30-11.00 WIB. Rombongan WKM SD ............................ tiba pukul 09.40. Rombongan berkumpul di gazebo untuk berdoa bersama dengan di Pandu oleh Bapak Santo. Seusai berdoa dan ucapan selamat datang, bapak santo menjelaskan tentang profil museum. Peserta WKM juga diberi kuis berbahasa Jawa oleh pemandu. Siswa diajak menyaksikan profil museum, dan film tentang sejarah kerajaan mataram Islam. Seusai menyaksikan film, para siswa melakukan observasi koleksi museum.  
Menurut keterangan yang kami dapatkan, museum Sejarah Purbakala Pleret didirikan pada tahun 2004. Museum ini seluas sekitar  2.500 m2. Museum dikelola olah Dinas Kebudayaan Provinsi DIY.
Museum Sejarah Purbakala Pleret berada di Dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul. Museum ini menyimpan benda-benda yang terkait dengan berbagai peristiwa sejarah yang pernah ada di Pleret. Kecamatan Pleret merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bantul yang mempunyai peran historis tinggi karena pernah menjadi tempat berdirinya Keraton Kerto dan Keraton Pleret. Keberadaan tempat-tempat tersebut kini sudah tidak dapat dilihat lagi, namun sebagian sisa bangunan masih terpendam di dalam tanah. Beberapa komponen bangunan yang telah rusak tersebut, saat ini akhirnya tersebar di beberapa wilayah di sekitar bangunan tempat museum berdiri.
Keberadaan Sumur Gumuling menjadi simbol adanya suatu peradaban yang pernah berkembang di tempat itu karena adanya sumur tersebut menandakan lokasi bekas berdirinya Keraton Pleret. Sumur tersebut berada di dalam area bangunan museum. Dulunya sumur ini sudah tidak terawat dan terbengkalai, namun sekarang sumur ini sudah dipugar dan masih berfungsi dengan baik.  Berbagai penemuan yang berkaitan dengan keberadaan Keraton Pleret adalah ditemukannya berbagai macam batuan dan sisa-sisa bangunan keraton di sekitar tempat didirikannya musem. Contoh benda peninggalan Keraton Pleret yaitu umpak (batuan andesit yang dipakai sebagai landasan tiang); berbagai jenis arca bercorak Hindu; antefik; berbagai benda logam, seperti talam, entong, uang logam china dan berbagai peralatan rumah tangga berusia ratusan tahun yang sempat terpendam dan kini menjadi koleksi Museum Purbakala Pleret.
Museum Purbakala Pleret dibangun dengan tujuan melestarikan benda benda cagar budaya pada kawasan cagar budaya khususnya situs Sumur Gumuling, Masjid Kauman, situs Kedaton, Kerto, Keputren, dll. Sehingga fungsi museum ini yakni untuk menyimpan, merawat dan memajang benda cagar budaya dari kawasan Cagar Budaya Pleret dan situs-situs lain di Bantul. Maksud dari pelestarian benda-benda cagar budaya tersebut antara lain untuk meneliti data tentang sejarah kerajaan mataram Islam yang didirikan pertama di Kota Gede kemudian pindah ke Kerto lalu ke Pleret dan terakhir di Kartasura sebelum menjadi Keraton Sukarta dan Yogyakarta.  Gedung sebelah barat menyimpan koleksi-koleksi benda cagar budaya yang sudah teridentifikasi. 71 koleksi yang ada berasal dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY sedang ratusan koleksi lainnya dari hasil pengumpulan oleh Dinas Kepudayaan DIY- Ke 81 benda koleksi cagar budaya yang ada terdiri dari : mata uang cina, genda pendeta,  talam, fragmen cepuk, beliung, bokor, batu dan batu pipih, entong, arca Ganesha , arca Agastya, pipisan, gandik, dll.
Selain berfungsi untuk kantor, bangunan sisi tengah museum digunakan untuk menyimpan benda-benda cagar budaya yang telah ditemukan, tetapi masih dalam tahap identifikasi. Nantinya sebagian bangunan ini, juga digunakan untuk menyimpan dan memajang benda koleksi cagar budaya yang sudah teridentifikasi. Proses pendataan dan pengumpulan benda-benda cagar budaya yang masih tersebar di kawasan cagar budaya kelas C ini, terus dilakukan.
Selain koleksi benda-benda cagar budaya, museum ini juga memamerkan peta prakiraan lokasi keraton Mataram Pleret, silsilah raja-raja Mataram dan masa pemerintahannya serta foto-foto terkini dan sekelumit sejarah tentang situs-situs tersebut yang berada dalam kawasan cagar budaya pleret. Pukul 11.00 para siswa berkumpul di gazebo dan bersiap berangkat ke objek berikutnya, yaitu perpustakaan Grahatama Pustaka.
B.     Grahatama Pustaka
Seusai berkunjung ke Museum sejarah Purbakala Pleret, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 30 menit menuju perpustakaan Grahatama Pustaka. Kami sampai di lokasi pada pukul 11.30. Sesuai jadwal, kami berkunjung ke museum perpustakaan Grahatama Pustaka pada pukul 12.20-14.30 WIB. Sebelum masuk ke perpustakaan Grahatama Pustaka, rombongan melakukan kegiatan isoma. Rombongan makan siang di gazebo-gazebo seputar Grahatama Pustaka. Seusai menikmati makan siang, para peserta dan pemandu melaksakan ibadah sholat Dhuzur di mushola yang ada di dalam Grahatama Pustaka.
Pada pukul 12.20 seusai istirahat dan sholat, rombongan peserta WKM SD ........................... di lobi utama Grahatama Pustaka dengan dipandu oleh petugas dari Grahatama Pustaka. Para peserta dijelaskan tentang profil Grahatama Pustaka dan diajak berkeliling untuk observasi ruang-ruang dan fasilitas yang ada di Grahatama Pustaka, seperti ruang  audiovisual, ruang koleksi, ruang anak, ruang musik, dsb.
Menurut keterangan yang kami dapatkan, Perpustakaan Grahatama Pustaka merupakan perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Grahatama Pustaka diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X. Nama Grahatama Pustaka mengandung arti tempat menyimpan swaka. Karena di Perpustakaan ini terdapat berbagai koleksi buku yang masih baru hingga buku langka yang sudah dicetak lagi, baik dalam bentuk buku maupun digital.
Gedung perpustakaan  dirancang untuk mengakomodir fungsi perpustakaan sebagai institusi yang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi masyarakat luas. Gedung tersebut dibangun dengan empat menara menjulang yang mengandung makna empat kesempurnaan orang Jawa, yaitu Prakoso, Wulung, Wangi, dan Agung. Perpustakaan itu diharapkan mampu menjadi pintu gerbang bagi manusia dalam mencapai derajat tertinggi melalui pengetahuan yang terkandung dalam berbagai koleksi perpustakaan itu.
Perpustakaan Grahatama Pustaka berdiri di atas lahan seluas 2,4 hektare. Perpustakaan ini memiliki tiga kantong parkir outdoor dan satu tempat parkir basement, sehingga pengunjung tidak perlu kebingungan untuk tidak kebagian lahan parkir.
Perpustakaan Grahatama Pustaka memiliki kurang lebih 7.500 judul yang merupakan koleksi langka berupa naskah kuno dan stablats. Namun, koleksi langka tersebut hanya bisa dibaca di tempat, dan untuk sejumlah  naskah kuno yang telah rapuh hingga kini terus dilakukan upaya alih media menjadi bentuk digital sehingga tetap bisa diakses. Perpustakaan juga memiliki koleksi buku sebanyak 180.000 judul. Sementara itu perpustakaan mampu menampung sebanyak 2.000 pengunjung. Koleksi perpustakaan sekitar 400.000 buku cetak dan 350.000 e-book
Perpustakaan Grahatama Pustaka diharapkan menjadi tempat belajar yang menyenangkan, karena didukung dengan berbagai fasilitas seperti ruang belajar, ruang audio visual, ruang digital, ruang bermain, ruang dongeng, ruang koleksi anak, dan ruang musik serta bioskop 6 Dimensi. Keberadaan bioskop 6 Dimensi menjadi salah satu fasilitas unggulan yang saat ini masih langka dimiliki oleh lembaga perpustakaan di tempat lain. Di samping  itu dilengkapi fasilitas kafetaria. Perpustakaan yang terbuka untuk umum ini, selain menyediakan fasilitas peminjaman juga dilengkapi dengan akses free wifi bagi para pengunjungnya.
Grahatama Pustaka merupakan perpustakaan umum, sehingga masyarakat umum bisa mengaksesnya dengan gratis, mulai dari anak-anak usia balita sampai orangtua. Gedung perpustakaan itu juga dibangun dengan menyediakan fasilitas akses bagi para penyandang disabilitas. Fasilitas tersebut berupa sejumlah komputer bersuara bagi tuna netra, di samping beberapa koleksi buku braille yang sudah bisa diakses. Jumlah koleksi dalam bentuk buku cetak sekitar 400 ribu buah dan buku digital 350 ribu, tetapi belum bisa diunggah karena sedang dalam proses untuk dibuat chip digital.
Di samping pelajar, masyarakat umum juga bisa menggunakan fasilitas perpustakaan  daerah, misalnya menyaksikan film dokumenter, dan film tentang pendidikan.
Pengunjung Grahatama Pustaka akan dilayani dengan jadwal buka pukul 08.00 WIB dan tutup pukul 22.00 WIB. Bagi pelajar dan mahasiswa cukup dengan menunjukkan kartu tanda pelajar atau kartu tanda mahasiswa untuk mendapatkan kartu perpustakaan. 
Seusai berkeliling untuk observasi berbagai ruang dan fasilitas yang ada, para peserta WKM dari SD ............................... menikmati tayangan bioskop 6D. Para peserta secara berkelompok dan bergiliran antre untuk menonton film 6D yang merupakan pengalaman pertama mereka. Pada pukul 14.30, peserta WKM berpamitan untuk kembali ke sekolah.





HASIL WAJIB KUNJUNG MUSEUM

A.     Hasil Kunjungan Museum Sejarah Purbakala Pleret
Beberapa hasil kunjungan yang diperoleh siswa dalam kegiatan WKM adalah sebagai berikut.
1.      Siswa memahami tujuan dibangunnya museum Sejarah Purbakala Pleret.
2.      Siswa mengetahui sejarah berdirinya Keraton Mataram di Pleret.
3.      Siswa mengetahui berbagai koleksi yang ada di museum.
4.      Siswa senang berkunjung ke museum Sejarah Purbakala Pleret.
5.      Siswa termotivasi untuk berkunjung ke musuem lagi dalam kesempatan yang lain.
B.     Hasil Kunjungan Perpustakaan Grahatama Pustaka
Beberapa hasil kunjungan yang diperoleh siswa dalam kegiatan WKM adalah sebagai berikut.
1.      Siswa memahami tujuan dibangunnya perpustakaan Grahatama Pustaka.
2.      Siswa mengetahui berbagai fasilitas yang ada di perpustakaan Grahatama Pustaka.
3.      Siswa memperoleh pengalaman menonton bioskop 6 dimensi.
4.      Siswa senang dan termotivasi untuk meluangkan waktu berkunjung ke perpustakaan Grahatama Pustaka guna menambah ilmu pengetahuan pada kesempatan yang lain.

 

PENUTUP

A.     Kesimpulan
Kegiatan Wajib Kunjung Museum merupakan kegiatan pembelajaran di luar kelas yang sangat menyenangkan dan edukatif. Melalui kegiatan ini peserta didik SD ................................. terlihat antusias dan merasa lebih nyaman serta bersemangat, sehingga mereka lebih mudah memahami pengetahuan sejarah yang ditersaji dalam WKM. Kegiatan ini juga mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan logis pada hal-hal yang mereka amati. Melalui WKM siswa merasa senang lebih mengenal sejarah Museum Perbakala Pleret dan Perpustakaan Grahatama Pustaka serta terhindar dari rasa jenuh belajar di sekolah.
B.     Saran
Sebaiknya kerjasama kegiatan Wajib Kunjung Museum antara SD ................................... dan Dinas Kebudayaan  dapat terjalin kembali tahun depan untuk memberikan kesempatan WKM bagi peserta didik yang belum mengikuti.
 

Featured post

Pengertian Rubrik

Materi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VI : Rubrik adalah kepala karangan (ruang tetap) dalam media cetak baik surat kabar maup...